Rabu, 25 Maret 2020

Asal Mula Virus Corona

Virus corona merupakan virus yang sudah mendunia. Virus ini telah menginfeksi ratusan negara. Sebagian orang pastinya pernah berpikir darimana asal mula virus corona. 
Jadi, virus corona itu merupakan virus yang sudah ditemukan pada tahun 1965, virus ini ditemukan di amerika pada tubuh kelelawar. Virus ini tidak jauh berbeda dengan virus SARS karena virus SARS juga ditemukan pada hewan kelelawar dan menular melalui hewan. Begitu juga dengan corona, corona sewaktu pertama kali ditemukan hanya dapat menular melalui hewan saja. Jadi, kenapa virus corona bisa menular ke manusia? Nah, mengingat bahwa akan terjadi perang dunia ke-III. Cina berusaha membuat 3 senjata, yaitu bom atom, senjata kimiawi, dan senjata biologis. Untuk senjata biologis ini cina menggunakan virus Corona tersebut dengan cara memutasikan virus tersebut menjadi gen yang baru sehingga dapat menular ke manusia. Iya, COVID-19 itu merupakan hasil lab biologis. trus kenapa ilmuwan cina membiarkan virus itu terus berkembang di negaranya sendiri terlebih dahulu? Itu merupakan politik internasional. Cina merupakan negara dengan penduduk terpadat di dunia, mencari tempat tinggal di cina lebih susah dari pada mencari jodoh di cina. Oleh sebab itu virus itu dibiarkan begitu saja berkembang di negerinya terlebih dahulu dan lambat laun menyebarkannya ke dunia. Apa keuntungan bagi cina menyebarkan virus COVID-19? Keuntungannya bagi cina yaitu penduduk di cina tidak akan begitu padat lagi dan perang dunia ke-III bukan lagi perang antar negara tetapi antar negara memerangi virus COVID-19.  

Selasa, 24 Maret 2020

kapabilitas yang Mengatur Keamanan Negara

KAPABILITAS SISTEM POLITIK INDONESIA

Suatu sistem politik dapat dikatakan selalu mempunyai kapabilitas dalam menghadapi kenyataan dan tantangan terhadapnya. Dewasa ini telaahan tentang apa yang benar-benar dilakukan atau dikerjakan oleh sistem politik telah menjadi salah satu ukuran keberhasilan atau kegagalan suatu sistem politik.
Penelaahan terhadap system-sistem politik tersebut dapat mendorong kita kearah perkenalan dan pengertian yang lebih mendalam tentang soal-soal perubahan politik. Prakarsa perubahan politik tersebut dapat berasal dari tiga sumber yaitu Elit (termasuk elit yang duduk di dalam pemerintahan) dari kelompok-kelompok dalam infrastruktur politik, lingkungan internasional. Perubahan politik tersebut akan dapat menghasilkan pola hubungan baru antar tuntutan dan dukungan dalam sistem politik yang bersangkutan.
Suatu sistem politik harus memiliki kapabilitas dalam menghadapi kenyataan dan tantangan terhadapnya. Pada era modern ini prestasi sistem politik di ukur dari kemampuannya melakukan penyelesaian dalam menghadapi masalah bangsa, dan tantangannya. Atau lebih berorientasi pada hal yang bersifat nyata (riil), seperti pertumbuhan ekonomi, stabilitas social, politik dan lainnya.

Pengertian Kapabilitas Sistem Politik
Kapabilitas sistem politik adalah kemampuan sistem politik dalam menghadapi tantangan, dinamika dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam suatu Negara
atau pengertian lainnya yaitu Kemampuan sistem politik dalam bidang ekstraktif (kemampuan eksplorasi sumber daya alam, dan juga manusia), distributive (kemampuan mengelola SDA dan SDM), regulative (kemampuan menyusun undang-undang, mengatur, serta mengawasi dan mengendalikan tingkah laku individu, kelompok, organisasi, perusahaan, dll. Sehingga dapat patuh dan taat kepada undang-undang yang berlaku), simbolik (kemampuan untuk membangun pencitraan terhadap kepala Negara atau juga rasa bangga terhadap negaranya), responsive (kapabilitas untuk menciptakan daya tanggap kepada masyarakat), dan dalam negeri serta internasional (hubungan interaksi dengan luar negeri) untuk mencapai tujuan nasional seperti dalam pembukaan UUD 1945.
Menurut Almond, untuk menentukan realitas kegagalan sistem politik, memerlukan serangkaian parameter yang sekaligus pemenuhan didalamnya menjadi sebuah tawaran solusi. Dikatakan bahwasanya setiap sistem politik harus memiliki enam jenis kemampuan, yaitu :

1.      Ekstraktif
Ekstraktif adalah kemampuan pemerintah untuk melakukan pengolahan terhadap SDA dan SDM dilingkungan dalam maupun lingkungan luar. Adapun menurut Gabriel Almond mengemukakan bahwa Kapabilitas Ekstraktif, yaitu kemampuan mengumpulkan dan mengelola sumber daya alam dan sumber daya manusia dari lingkungan dalam negeri dan internasional. Kemampuan SDA biasanya masih bersifat potensial sampai kemudian digunakan secara maksimal oleh pemerintah, seperti bagaimana pemerintah mengelola pertambangan berhadapan dengan modal domestic maupun asing dan kepentingan kemakmuran rakyat di sisi yang lain. Sementara kemampuan pengelolaan SDM akan berkaitan dengan masalah-masalah pendidikan, peningkatan sumber daya, pengalokasian SDM dan lain-lain. Tentu saja, pada akhirnya kedua dimensi kemampuan pengelolaan potensi SDA dan SDM harus dipadukan ke dalam satu tujuan, yakni kemaslahatan bangsa di mana sistem politik itu bekerja.

2.      Regulatif
Regulatif adalah kemampuan pemerintah untuk membuat aturan- aturan yang dapat mengontrol dan mengendalikan perilaku individu atau kelompok agar sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku. Gabriel Almond beranggapan bahwa Kapabilitas Regulatif sama dengan pengaturan yang merujuk kepada aliran kontrol atas perilaku individu dan relasi-relasi kelompok di dalam sistem politik. Point ini biasanya dilakukan dengan cara menerapkan peraturan-peraturan secara umum, dimana tolok ukur penilaiannya terletak pada sejauh mana pola-pola tingkah laku dari pada individu-individu yang ada beserta berbagai bidang di dalamnya dapat diatur oleh suatu sistem politik.

3.      Distributif
Distributif adalah kemampuan pemerintah untuk mengalokasikan dan mendistribusikan SDA dan SDM berupa barang dan jasa  yang dimiliki oleh masyarakat dan negara secara merata. Menurut Gabriel Almond Kapabilitas Distributif yakni merujuk kepada kemampuan melakukan alokasi dan distribusi sumber-sumber ekonomi, penghargaan, status, dan kesempatan untuk semua lapisan masyarakat. SDA yang dimiliki oleh masyarakat dan negara diolah sedemikian rupa untuk dapat didistribusikan secara merata, dalam rangka penciptaan keadilan sosial. Pada saat yang sama distribusi sumber-sumber penghidupan dan pekerjaan serta mobilitas sosial juga penting diperlihatkan oleh kapabilitas distributif ini. Demikian pula dengan pajak sebagai pemasukan negara itu harus kembali didistribusikan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Sistem dan struktur perpajakan, dengan demikian, akan memengaruhi corak kenegaraan, apakah bisa dikatakan lebih adil atau kurang adil, lebih mampu menjalankan kapabilitas distributif atau malah gagal.

4.      Simbolik
Simbolik adalah kemampuan untuk membangun pencitraan terhadap kepala negara atau juga rasa bangga terhadap negaranya. Menurut Gabriel Almond Kapabilitas simbolik, artinya kemampuan pemerintah dalam berkreasi dan secara selektif membuat kebijakan yang akan diterima oleh rakyat. Semakin diterima kebijakan yang dibuat pemerintah maka semakin baik kapabilitas simbolik sebuah sistem politik.

5.      Responsif
Responsif adalah kemampuan daya tanggap yang diciptakan oleh pemerintah terhadap tuntutan atau tekanan. Gabriel Almond berpendapat tentang Kapabilitas responsif bahwa dalam proses politik terdapat hubungan antara input dan output. Output berupa kebijakan pemerintah dapat diukur dari sejauh mana kebijakan tersebut dipengaruhi oleh masukan atau adanya partisipasi masyarakat (sebagai inputnya). Di sini, agak sedikit berbeda dengan kapabilitas simbolik, yang paling pokok bukan lah didapatkannya benang merah antara kebijakan dengan tuntutan/aspirasi masyarakat, tetapi lebih kepada bagaimana proses pembuatan kebijakan itu sendiri, yakni pelembagaan mekanisme agregasi dan artikulasi politik kepentingan masyarakat ke dalam sebuah kebijakan politik. Jadi, bukan sekedar melihat apakah Output kebijakan paralel dengan aspirasi/tuntutan masyarakat (kemampuan menangkap wacana aspirasi), tetapi apakah di dalam sistem politik tersebut telah terlembagakan suatu mekanisme dimana rakyat dapat lebih mudah dan lebih mungkin untuk terlibat di dalam tahapan-tahapan pembuatan kebijakan.
6.      Domestik dan internasional
Domestik dan Internasional adalah kemampuan yang dimiliki pemerintah dalah hal bagaimana ia berinteraksi dilingkungan domestik maupun luar negeri. Kemampuan domestik sistem politik masih lemah sehingga relasi antara pemerintah dan masyarakat kurang harmonis, hal ini tergambar dari berbagai aksi ketidakpercayaan publik terhadap kinerja pemerintah selama ini. Mengenai kemampuan internasional, sistem politik indonesia sangat terbuka terhadap kebijakan internasional dan membentuk relasi yang baik dengan dunia internasional.

Dari keenam kapabilitas politik tersebut ada beberapa kapabilitas politik yang sangat perlu ditekankan sesuai dengan kebutuhan sekarang dalam menghadapi COVID-19. Adapun kapabilitas tersebut ialah regulatif, dimana pemerintah sudah sewajarnya membuat kebijakan baru dalam menghadapi masalah COVID-19. Pemerintah memang sudah membuat kebijakan baru yaitu social distancing tetapi untuk memperkuat pencegahan penyebaran COVID-19 maka peraturan pemerintah yang dibuat harus juga disetujui oleh hukum daerah. Karena hukum daerah juga berperan penting dalam mempengaruhi masyarakat. Social distancing merupakan aturan yang bagus untuk mencegah penyebaran COVID-19, tetapi dibalik itu akan ada banyak kerugian yang akan dialami oleh masyarakat yang lain. Maka, harus juga ada responsif, yang artinya pemerintah peduli kepada masyarakat atas efek atau akibat dari kebijakan yang dibuat. Walaupun peraturan tersebut menyulitkan masyarakat, tetapi itu semua dibuat demi keamanan masyarakat. Salah satu kebijakan yang dibuat untuk mencegah penyebaran COVID-19 sangat dirasakan oleh para tenaga kerja kesehatan. Kita dapat melihat berita tentang banyaknya dokter dan perawat telah terinfeksi virus corona. Bahkan ada juga beberapa dokter yang meninggal. Seluruh pasien yang terinfeksi virus corona akan ditanggung oleh pemerintah melaui BPJS. Bukankah itu akan membuat para dokter yang bekerja itu sudah sama seperti bekerja rodi? Karena jika ditanggung oleh BPJS gaji dokter spesialis itu hanya sekitar Rp. 2000 per pasien. Melihat situasi seperti itu, pemerintah juga harus merespon yang dialami oleh para tenaga medis. Menurut saya, bantuan pemerintah juga sangat dibutuhkan dalam pencegahan penyebaran COVID-19. Salah satu bantuan yg dibutuhkan masyarakat ialah masker gratis dan pembagian hand sprayer secara gratis. Untuk bantuan ini menurut saya tidak perlu diusulkan ke pusat. Karena pemerintahan desa juga akan sanggup memberikan bantuan itu. Untuk soal dananya, pemdes bisa saja memakai APBD. Karena tidak mungkin juga dana desa akan dipakai untuk keperluan desa lagi. Untuk saat ini lebih baik dana mensejahterakan masyarakat dipakai untuk menyelamatkan masyarakat.

 Selain itu, salah satu peraturan baru yang di keluarkan oleh bapak Presiden Joko Widodo, bahwa "semua pedagang pedangang kecil ataupun besar di tutup sementara", dibalik hal itu tentu membuat ekonomi penjual tersebut menjadi rendah. Sehingga pemerintah juga harus memberikan bantuan berupa material bagi warga yang memang membutuhkan karena tidak bisa bekerja dari rumah. 

Kebijakan social distancing saja sudah ribet dan susah untuk kita lewati apalagi lockdown, cara lockdown merupakan cara yang sanagat sulit untuk dilakukan. Hal tersebut terasa sulit karena masih banyak lagi faktor yang akan dihadapi masyarakat yang mungkin tidak bisa dibantu pemerintah. Maka dari itu, ikutilah kebijakan social distancing, karena itu merupakan salah satu cara yang bagus untuk memperlambat penyebaran COVID-19. Untuk pertama kalinya pepatah mengatakan bersama-sama kita mati dan bercerai kita selamat. 
Dan ingat, kita bukan hanya lagi memerangi COVID-19, tetapi kita juga sudah memerangi diri sendiri untuk menahan yang diinginkan.